Home

SATU SLOKI PENAWAR STROKE

Saturday, May 17th, 2008 | Author: noni

SATU SLOKI PENAWAR STROKE!
Yanti Widjaja


BERENANG adalah kegemaran saya. Tapi suatu pagi saya di kejutkan oleh kesehatan saya. Ketika sedang berendam di air, tiba-tiba saya mendapat serangan tekanan darah tinggi. Kepala sakit. Muntah-muntah.
Dokter menyatakan stroke. Langit seperti runtuh. Tapi saya tetap semangat untuk sembuh. Bersama suami yang merawat saya, selama dua bulan saya berobat ke dokter. Perubahan yang saya rasakan, pusing sudah hilang. Tapi jalan masih belum bisa. Harus dituntun.

Berpikir juga rasanya masih susah. Penglihatan pun masih bermasalah. Tapi yang satu ini saya tidak bilang ke suami, khawatir dia semakin kepikiran.
Selepas bulan kedua, seorang teman membawa buku tentang testimoni TNJ. Saya baca buku itu di pagi hari, sambil berjemur. Sebab, stroke membuat jari kaki sampai lutut saya terasa dingin. Menurut buku itu, TNJ bisa menyemangatkan sel. Saya coba membeli satu liter. Saya minum satu sloki menjelang tidur. Malam itu saya tidur pulas. Jam 5 pagi bangun sendiri dan bisa mandi. Yang saya rasakan, TNJ tak saja menyemangatkan sel tubuh, tapi memberi spirit terhadap keinginan saya untuk sembuh.
Satu bulan setelah minum TNJ, tubuh saya betul-betul sehat. Sejak hari itu, saya rutin minum satu sloki pagi dan malam, untuk menjaga stamina.

Tags » «

Topic Yang Berhubungan :

Trackback: Trackback-URL | Comments Feed: RSS 2.0
Category: PENDAPAT PARA AHLI

You can leave a response.

One Response

  1. [...] Stroke merupakan masalah kesehatan yang besar, menduduki urutan kedua sebagai penyebab kematian di dunia. Selain kematian, masalah utama lain akibat stroke adalah kecacatan, dan di antara penyakit lain, stroke adalah penyebab utama kecacatan pada usia dewasa. Pemulihan pasien (penderita) paska serangan stroke sering disertai dengan kecacatan, berlangsung lama dan sulit pulih seperti semula, sehingga sangat mempengaruhi kemandirian penderita dalam aktivitas sehari-hari. Ditambah lagi dengan depresi yang dialami, menyebabkan penderita maupun keluarga akhirnya bersikap pasif. [...]

Leave a Reply